Skip to content

Perlukah Kekerasan Diterapkan Dalam Dunia Pendidikan Kedinasan

February 3, 2009

fight1

Saat ini banyak institusi pemerintahan kita yang mendidik sendiri kader-kader penerusnya baik yang sudah lama maupun yang masih tergolong muda usia. Dengan mendirikan sekolah-sekolah kedinasan seperti Akpol, Akademi TNI, STPDN, AIM, dan sebagainya, pimpinan setiap institusi tersebut mengharapkan lulusan yang benar-benar siap pakai untuk mengemban tugas-tugas kedinasan sesuai bidang pekerjaannya. Sehingga kurikulum pelajaran yang diberikan pun harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan nantinya. Dalam kehidupan pendidikan kedinasan terutama yang mengasramakan anak didiknya, saya melihat adanya pola yang mirip dalam menanamkan nilai-nilai sikap dan perilaku disamping pelajaran mata kuliah yang disampaikan di kelas. Nilai-nilai yang dimaksud antara lain tumbuhnya rasa kedisiplinan, jiwa kebersamaan, rasa saling menghargai dan menghormati, dan jiwa kepemimpinan yang saya rasa tidak didapati pada pendidikan umum lainnya dengan porsi yang besar. Nilai-nilai itu tidak hanya diberikan sebagai pelajaran, namun juga diresapkan dalam tingkah laku keseharian para siswanya. Sehingga aspek ini tidak hanya memerlukan pembelajaran secara kognitif, melainkan juga secara afektif dan psikomotorik. Hal ini dilandasi pemahaman bahwa seorang kader pimpinan tidak serta merta dilahirkan ke dunia, namun dibentuk dan ditempa melalui kebiasaan dan kontrol lingkungan yang baik.

Didasari pemahaman di atas, upaya pembentukan karakter pribadi seseorang tidaklah mudah. Dan terkadang diperlukan upaya paksa secara konsisten dan kontinyu dalam satu kurun waktu tertentu untuk mencapai tujuan. Disinilah langkah-langkah pembentukan itu menjadi keras dan tegas untuk menciptakan pribadi yang kuat dan tangguh. Sebagai contoh kecil adalah membiasakan seseorang untuk bangun di pagi hari, tentu merupakan hal yang tidak mudah bagi orang yang belum terbiasa. Keras dalam kamus pribadi saya tidak dapat disamakan dengan kekerasan. Keras saya artikan lebih mengacu pada penerapan aturan main yang tegas dan tidak ada toleransi, sedangkan kekerasan adalah bentuk kontak fisik yang “mungkin juga” dilakukan untuk menerapkan aturan itu. Sehingga sesungguhnya dua hal ini memiliki makna sangat berbeda. Saya yakin pendidikan kedinasan di Indonesia saat ini memiliki komitmen yang tinggi dalam mencegah terjadinya “kekerasan” dalam kehidupan asrama mahasiswanya. Sehingga bagi rekan-rekan yang memiliki keinginan untuk mengabdi kepada ibu pertiwi melalui jalur ini, kenapa harus ragu atau bimbang, tetapkan hati dan bulatkan tekad untuk menempuh jalan yang sukar dan berat untuk tujuan yang mulia.

22 Comments leave one →
  1. February 3, 2009 8:09 am

    kekerasan dalam konteks apapun tidak identik dengan penegakan kedisiplinan
    jika disiplin ditegakkan dengan kekerasan, jadilah robot bertubuh manusia
    jika robot-robot itu berkesempatan menjadi abdi negara, lalu karakter apa yang di-unjukkan?

    @ masedlolur : setuju mas..

  2. February 8, 2009 5:48 am

    Kekerasan tidak harus selalu. Ketegasan adalah suatu yang harus, mungkin penerapannya dengan bijaksana.
    Salam kenal, mas Wahyu. Jarang-jarang ada anggota the police yang ngeblog, lho.
    Selamat menjalankan tugas.

    @ alris :setuju… salam kenal kembali pak !!

  3. February 12, 2009 8:16 am

    APAPUN BENTUKNYA DAN DIMANAPUN TEMPATNYA KEKERASAN ITU TIDAK DIPERBOLEHKAN..apalagi sekolah kedinasan

  4. February 12, 2009 12:57 pm

    kekerasan dalam pendidikan kedinasan saya rasa itu ga perlu. kan bukan militer.. kecuali kalau pendidikan kepolisian, TNI.. itu diperlukan utk melatih ketangkasan/kekuatan/ketangguhan calon anggota krn hal ini berhubungan dengan ketahanan dan keamanan nasional🙂

    @ INDAH REPHI : pemikiran yang cerdas

  5. zamrul permalink
    February 16, 2009 11:41 am

    ijin mengomentari bang
    kalau seseorang dibina dengan kekerasan “fisik”
    suatu saat akan timbul hasrat untuk melakukan apa yang telah diterimanya dulu kepada orang lain
    ………….
    tapi dalam hal2 tertentu kekerasan itu diperlukan
    keras dalam menegakkan disiplin misalnya
    hukuman yg diberikan mendidik atau melatih
    bukan menganiaya

    @ zamrul : oke bro..

    • Anandika Nevada - XStarLogic permalink
      October 7, 2009 4:39 pm

      Saya selalu punya prinsip gini:

      Melatih dengan keras bukan berarti melatih dengan kekerasan. Saya koreksi ya pak. Menerapkan hukuman yang keras tapi pada porposinya itu benar. Hukuman yang keras tanpa porposi yang tepat, sama dengan kekerasan atau penganiayaan.

      Contoh:
      Junior saya terlambat, saya langsung meminta dia untuk push up 50x. Ini keras. Kalau tidak keras ya misalkan dengan teguran lisan.

      Kalau dia saya pushup disertai tendangan dan pukulan itu baru namanya kekerasan.

  6. JDODOR singkek permalink
    March 6, 2009 2:55 pm

    Aku juga mau kasih komentar nih. Pengalamanku selama sekolah karena aku pernah sekolah di AKMIL juga di Sekolah sipil ( disekolah sipil : 4 perguruan tinggi sudah aku jalani ). Memang yang paling kupilih dan ku senangi hanya di AKMIL karena semua materi kuliah, praktek dan segala pendukungnya jelas sesuai aturan yang telah disepakati negara, bahkan tingkat disiplin, kecerdasan, kesehatan, ketekunan, mental, fisik, dsb semua diperhatikan. Semua materi perkuliahan benar-benar disampaikan sesuai juklak dan tidak ada sisa sedikitpun. Dosen di kelas dan pelatih dilapangan benar-benar sinkron tidak ada perbedaan, semua materi perkuliahan diberikan dan diajarkan untuk setiap individu, jadi semua benar-benar membuat kita cerdas, trampil, dan trengginas serta tanggap akan persoalan. Sehingga setiap Taruna dapat berbuat dan bertanggungjawab tinggi atas semua materi perkuliahan ketika diterapkan di lapangan. Tidak ada dosen ataupun pelatih yang bolos kerja/ngajar, demikian juga Komandan baik itu Gubernur AKMIL, DanYon, DanKompi, DanTon semua aktif ikut mengamati dan membimbing kita. Yang jelas pengalamanku tidak ada kekerasan yang ada hanya DISIPLIN dan Ketahan mental FIsik harus prima. Lain lagi ketika aku kuliah di Umum(Sipil) dari 4 perguruan tinggi..waduh kacau deh. Coba lihat ada aja yg dosen males ngajarlah, mahasiswa nyonteklah (kalau di AKMIL nyontek dapat dipenjara dan dipecat dari pendidikan– dijamin deh), duduk nggak aturanlah, merokoklah, pakaian tak rapilah, mahasiswa pada berantemlah. Nah kalau udah begini apa bisa memimpin negeri ini kalau awalnya aja udah males, semrawut…ilmu atau pelajaran kuliah disuruh cari sendiri..dosen santai-santai aja….waduh mana tahan. Untunglah aku sudah terbiasa hidup disiplin di Militer semua kuselesaikan dengan sempurna… bersyukurlah dan aku dapat selesai kuliah….. Tetapi akau tetap cinta di didik di AKMIL dari pada di umum. Aku senang dengan disiplinnya, keterbukaannya..begitulah sekelumit komentarku. Semoga dapat menjadi pembelajaran kita semua demi hidup berbangsa dan bernegara di negeri Nusantara ini. Yang jelas di AKMIL tidak dididik untuk jadi mental pengecut.

  7. iin permalink
    March 16, 2009 4:30 pm

    kekerasan ama sekali tidak perlu dalam pendidikan…..

  8. nai permalink
    April 15, 2009 9:55 am

    Morning pak……
    kekersan itu ga perlu n ga penting!!!!
    Apalagi klu diterapkan di zaman skg ini.udah ga bikin org kagum malah norak n kampungan lebih baik kita bersama-sama saling membangun dgn ide2 kreatif untuk kemajuan bangsa n negara INDONESIA yg sangat kita cintai ini, bkan malah adu jotos…!
    Apalgi di tubuh AKPOL Harusnya pendidikan lebih mengarah kearah yg mendidik bukan dgn kekerasan fisik. karena dgn kekerasan fisik akan melahirkan pemimpin2 yg doyan berkelahi n bikin onar….

    • Anandika Nevada - XStarLogic permalink
      October 7, 2009 4:48 pm

      Kemaren sempet denger, junior akpol baru dibentak saja sudah lapor ke papi-mami. Memang aneh, untuk mendidik orang yang mentalitas seperti ini, ada jalurnya. Tapi sekali saya katakan, tidak perlu kekerasan, tapi cukup secara lisan. Belajarlah psikologi sebanyak-banyaknya.

      Mendidik orang dengan kekerasan dan tidak pada porposinya, akan melahirkan orang yang keras dan tidak memiliki perasaan dan kemanusiaan terhadap perasaan orang lain.

      Sepertinya polisi-polisi perlu banyak psikologi. Kalau diluar negeri, yang tren diantara kepolisian adalah Psikologi masal dan psikologi kriminal. Sangat membantu polisi untuk mendidik dan melumpuhkan kriminal lewat serangan psikis. Jadi yang namanya penjahat, tidak perlu ditembak mati di tempat.

  9. Boymuda permalink
    May 9, 2009 5:00 pm

    Bagi Kaum Muda-mudi yg sangat tdk suka dg kekerasan & ingin menjalani masa pendidikan yg santai; silahkan masuk ke Perguruan tinggi biasa saja (Negeri/Swasta) bnyak kok pilihannya di Indonesia ini, tetapi bagi Pemuda-pemudi Indonesia yg ingin didik/dikaderkan menjadi Benteng Negara, Pengayom, Pelindung Rakyat, Abdi Negara, & Abdi Masyarakat silahkan Mendaftar ke Akademi TNI, Akademi Kepolisian, Institut Pemerintahan Dalam Negeri & atau ke Sekolah2 Kedinasan yg bernaung dibawah Departemen2 RI. Karena di Lingkungan Pendidikan Tinggi Kedinasan Pembinaan Pembentukan Fisik maupun Mental adalah Wajib Hukumnya disamping Kurikulum yg harus diselesaikan oleh peserta didik, mengenai Proses penerapannya diperlukan Model Penindakan Pembinaan Disiplin yg Amat Keras dg Doktrin yg terarah bagi tercapainya Output yg siap pakai, tdk ada alasan bahwa ini adalah Model pendidikan yg salah, mau dibilangin kampungan kek, adu jotos kek, banci senior kek, sampai kpd melanggar HAM kek, terserah kepada opini masing2, yg pasti negara2 maju telah menerapkan Model pendidikan sperti ini bagi tercapainya Kader Negara yg Tangguh & siap pakai.
    “Ragu-ragu Kembali Sekarang juga …”

    • January 17, 2010 3:34 pm

      saya tidak setuju dengan pendapat anda mengatakan “Pembinaan Pembentukan Fisik maupun Mental adalah Wajib Hukumnya disamping Kurikulum yg harus diselesaikan oleh peserta didik, mengenai Proses penerapannya diperlukan Model Penindakan Pembinaan Disiplin yg Amat Keras dg Doktrin yg terarah bagi tercapainya Output yg siap pakai”

      dalam prespektif pendidikan dapat dilihat anda terlalu”behavioristik”. Model Penindakan Pembinaan Disiplin yg Amat Keras dg Doktrin yg terarah bagi tercapainya Output yg siap pakai itu adalah kesalahan. Karena tujuan itu “tidak memanusiakan manusia”. Dan mendidik atau membangun kedisiplinan, tidak dibangun dengan kekerasan. karena bagaimanapun juga kekerasan tidak dibenarkan dalam pendidikan

  10. mita permalink
    June 22, 2009 10:26 am

    pg bang…
    sy setuju dgn kt2 anda tentang
    “Keras artikan lebih mengacu pada penerapan aturan main yang tegas dan tidak ada toleransi, sedangkan kekerasan adalah bentuk kontak fisik yang “mungkin juga” dilakukan untuk menerapkan aturan itu
    soalnya diskul aq jg menerapkan sistim DISIPLIN byak yg ngeluh ktka ru mzuk skul pa lg waktu mos tp dgan adax kebiasaan dan contoh yg baik dr pihak atasan alhamdulillah teman2 malah lebih kagum dgn adax kedisiplinan ……….

  11. June 23, 2009 9:51 pm

    halo adek asuh, salut buat tulisannya.
    di dalam pendidikan kedinasan seperti di institusi Polri dgn mengambil AKPOL sebagai contohnya mempunyai kurikulum yang jelas dalam cara pembelajaran taruna, namun dibawah semua itu ada sebuah kurikulum yang tidak tertulis dan tidak mempunyai aturan yang jelas mengenai penegakannya, namun tidak dapat dipungkiri dalam pengalaman pribadi justru “hidden curriculum” itulah yang membentuk para lulusannya seperti sekarang ini karena tau sendiri lah apa yang terjadi di kelas pada saat jam kuliah.., bahkan tata cara yang diperoleh dari “hidden curriculum” dan diterapkan oleh perwira AKPOL setelah lulus dan bekerja di kesatuan masing-masing lebih mempengaruhi tata cara organisasi kepolisian di lingkup bekerjanya secara sehari hari. Bahkan di Brimob “hidden curriculum” ini dijadikan acuan dalam pembinaan PAJA,BAJA maupun TAJA (dulu)
    Yang mana “hidden curriculum” yang kita kenal sarat dengan KEKERASAN YANG MENDIDIK, diulangi sekali lagi KEKERASAN YANG MENDIDIK. Bukan sekedar sarana penyaluran hasrat “sok jagoan” dari para senior ke juniornya seperti yang dilakukan mas mas Stpdae..n yang melakukan tendangan terbang ala hwoarang di PS2, dan “hidden curriculum” yang kita terima sudah berlangsung sejak tahun 70an yang mana secara otomatis membentuk kultur dan tradisi di dalam Kepolisian yang kita cintai ini.
    Mungkin yang terpenting adalah apa tujuan kekerasan itu digunakan, menanamkan disiplin, hirarki dan loyalitas kah atau sekedar penyalahgunaan wewenang. gimana adek asuh?

    @ pontas narotama : setuju bg, disadari atau tidak, hidden curriculum tetap memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan mental, asal disesuaikan dengan porsi dan hakekat pembinaan itu sendiri.

    • Anandika Nevada - XStarLogic permalink
      October 7, 2009 5:08 pm

      Waduh pak, kekerasan manapun tidak mendidik. Saya pernah rendam junior saya di kali sampe dia mengigil, saya push up, saya jungkir bolak-balik… Itu keras, tapi yang jelas saya selalu mengamati dan memperhatikan ambang fisik. Kalau sampe saya kebablasan dalam mendidik, saya bisa jadi melakukan penganiayaan, secara tidak langsung.

      Yang jelas aturan main saya sederhana, saya TIDAK pernah akan melakukan kontak fisik, kecuali dia mengancam nyawa junior atau senior yang lain.

      Saya benar-benar sudah muak dengan kekerasan. Karena dari SMA hingga kuliah ini saya sudah dianiaya memalui senioritas berapa kali sampe bibir saya robek berkali-kali.

  12. Roby Heri Saputra Amd. Ik permalink
    August 22, 2009 7:01 am

    Izin komentar bang,..
    sekarang memang sudah BUKAN JAMANNYA dengan kekerasan,.. itu semua adalah produk peninggalan sistem pendidikan masa penjajahan JEPANG,. dari angkatan pertama didoktrinkan dengan KEBANGGAAN akan KEKUATAN dan KEKERASAN,. dulu memang berhasil membentuk disiplin, tapi sekarang jangan digunakan lagi,.
    harusnya sekarang kita menerapkan sistim pembentukan DISIPLIN dari DALAM DIRI Taruna sendiri,. atas dasar KESADARAN atau BUDAYA MALU yang terbentuk melalui sikap saling menghormati dan menghargai hak asasi, sehingga semua taruna dapat,.”SADAR UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWABNYA DAN MALU UNTUK MELAKUKAN KESALAHAN DAN PELANGGARAN”,.
    Terima kasih untuk semua orang yang perhatian terhadap almamater kami,.

  13. okkyradzzi pratama permalink
    November 8, 2009 9:18 pm

    Cikal bakal negara hancur adalah di tanamkan nya nilai-nilai negatif dalam dunia pendidikan.
    MOS, OSPEK, DLL..
    Sering kali tidak ada kaitan nya dengan dunia pendidikan.
    Kekerasan dianggap wajar, dengan dalih penegakan kedisplinan, tes mental, dll..
    Inikah wajah pendidikan Indonesia yang identik dengan kekerasan ?

  14. m0ch. badrun permalink
    November 18, 2009 9:31 am

    numpang komentar pak ya….
    menurut saya,kekerasan itu ga perlu!kan pendidikan itu diperlukan untuk mengubah sifat pada siswa didiknya.padahal kan tugas dari POLISI itu MENGAYOMI,MELINDUNGI,dan MELAYANI masyarakat,kalau siswa didiknya saja sudah diajari kekerasan,bagaimana siswanya nnti mau mengayomi masyarakatnya?

    memangnya ga da cara lain untuk mendidik selain dengan cara kekerasan…….???????
    keras itu boleh-boleh aja tapi jgn diartikan sbg kekerasan,krna nnti apa yang didapat dari seniornya psti akan diterapkan pada junirnya swktu dia uda jadi senior

  15. February 9, 2010 8:52 pm

    Mas Anandika, saya sangat setuju dengan komentar2 anda… saya seorang pendidik dan saya juga tidak setuju dengan mendidik secara kekerasan. Saya sungguh tersepona eh.. terpesona dengan komentar2 mas Andika… komentar anda sebagian saya kutip untuk bahan di blog saya ya? Ternyata komentar anda justru lebih jelas dibandingkan tulisannya hehe… Salut untuk anda, disiplin boleh kekerasan No Way, lebih baik membina orang yang tegas, disiplin dan berbudi serta berperikemanusiaan dibandingkan orang yang disiplin dan sok jagoan serta mudah tersinggung. Moga sukses untuk anda…

  16. Rio Febriyanto permalink
    February 21, 2010 2:22 pm

    kekerasan sih oke2 saja.gpp.smpe mati pun gpp.

    hidup kekerasaaaaaaaaaaaaannnnnnn

  17. hasan mustafa aba diyah permalink
    March 25, 2010 1:51 pm

    pada dasarnya kekerasan tidak di identikan dengan disiplin, tetapi terkadang. kalau mau membentuk mental dan fisik yang kuat adalah dengan jalur kekerasan, tetapi yang terjadi di indonesia adalah di salah gunakan kekerasan itu, dengan alasan disiplin dan senioritas, saya meski bukan anggota aparat negara. tapi sata merasakan kekerasan or ospek di kampus, meski gak sampai masuk rumah sakit, tetapi dilakukan di tengah malam dengan daalih acara kegiatan fakultas, mulai dari jam 11 malam sampai jam 5 subuh, setiap kelompok harus melewati pos2x, yang di mana pos2x ttersebut telah berada senior2x yang mulai dari angkatan muda sampai angkatan tua (alumni). tidak tanggung2x, pus up dan sebagainya di lakukan hingga akhir pos, kita di suruh berendam di air dingin (dilakukan di daerah pegunungan), dengan kepala yang berada diatas air dan badan full berendam. rasanya seperti ditusuk jarum tubuh ini, merasakan dinginnya air.

  18. Hari Sp permalink
    November 20, 2010 4:17 pm

    Sekedar sumbang saran….. semoga tidak menjadi saran sumbang.
    Disiplin,tegas, keras, dan kasar adalah hal yang sangat berbeda.
    Dalam teori manajemen yang disampaikan Henfy Fayol bahwa disiplin adalah 14 unsur manajemen yang harus ada dalam organisasi. Disiplin berkait dengan komitmen, artinya setiap anggota dalam suatu organisasi harus tegas dalam memegang nilai komitmen, tapi kekerasan apa lagi kekasaran dalam menerapkan suatu aturan memang sudah harus ditinggalkan. Kecerdasan akan menuntun kita untuk menerapkan aturan yang menjadi kimitmen tanpa kekerasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: