Skip to content

Prostitusi, Bisnis atau kejahatan

January 15, 2009

silhouette-of-nude-woman-painting-abstract-canvas-posters1

Prostitusi memang bukanlah hal yang baru di muka bumi ini. Sejak jaman nenek moyang, jaman penjajahan hingga jaman sekarang, yang katanya semakin beradabnya tingkat kebudayaan manusia, fenomena yang satu ini tetap menjadi sebuah “trend” dalam kehidupan sosial kita. Saya ingin berbagi perspektif pandangan saya pribadi mengenai hal ini, setelah kemarin sempat menonton sebuah film yang berlatar belakang tentang perdagangan manusia.  Lebih khusus perdagangan “wanita” sebagai salah satu kelompok sosial yang vulnerable.

Konon wanita adalah simbol keindahan dan kecantikan. Pesona inilah kemudian dijadikan sebuah komoditi yang sangat berharga, yang menjadikan wanita sebagai bahan dagangan yang dapat menghasilkan uang. Laki-laki memang ada juga yang menjual diri. Tetapi jarang yang kita lihat terorganisir dalam jumlah besar. Kalaupun ada mereka berusaha memiliki keindahan dan kecantikan untuk menjadi wanita yang palsu.

Disini saya ingin menyoroti perdagangan wanita sebagai penyokong utama berjalannya praktek prostitusi. Meskipun perdagangan wanita ini tidak hanya berujung pada masalah prostitusi. Dan juga Prostitusi sendiri tidak hanya disupport oleh perdagangan wanita saja. Prostitusi dan perdagangan wanita merupakan kajian yang berbeda, namun bisa jadi dan sangat mungkin saling mendukung. Banyak faktor yang menyebabkan praktek prostitusi baik secara internal maupun eksternal. Dari beberapa penelitian faktor itu antara lain karena kemiskinan, pendidikan yang rendah, sosial budaya, dan tetek bengek lainnya.

Kalau boleh saya ibaratkan praktek prostitusi sebagai pasar, maka perdagangan wanita sebagai jalur distribusinya. Di sini hukum supply dan demand menjadi berlaku. Ketika permintaan di pasar semakin besar semakin tinggi pula nilai barangnya maka distributor akan semakin memperbesar pasokan komoditinya. Begitu juga sebaliknya.

Menurut laporan Francis T Miko dari Congressional Research Service USA,  1 – 2 juta manusia setiap  tahun diperkirakan diperdagangkan di seluruh dunia untuk industri seks dan perbudakan. Perdagangan manusia disinyalir merupakan sumber keuntungan ketiga terbesar bagi organisasi kriminal di dunia setelah bisnis narkoba dan senjata. Laporan itu juga menyatakan korban terbesar dari perdagangan gelap itu berasal dari negara-negara Asia, yaitu lebih dari 225.000 orang dari Asia Tenggara dan 150.000 dari Asia Selatan.

Dengan lahirnya UU No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, kita seharusnya sepakat untuk menekan bisnis prostitusi atau setidaknya memberikan pengawasan yang ketat terhadap prostitusi sebagai sebuah “pasar” hasil perdagangan wanita. Disini kita dituntut menentukan apakah prostitusi sebagai bisnis atau sebuah kejahatan. Apabila kita memang termasuk pihak yang apatis ataupun justru ikut menikmati industri ini, maka bisa saja dikatakan sebagai bisnis. Tapi tatkala yang menjadi korban perdagangan wanita adalah seseorang yang kita cintai, baru kita sadari bahwa industri ini adalah bisnis yang sangat jahat.

3 Comments leave one →
  1. ipoenk permalink
    January 16, 2009 2:12 am

    Ini ni, ini yg kusuka dr ad asuh ni. Kritisssss pexzzzz
    Kalo menurut aku my bro, Prostitusi tetep sebuah hal yg fenomenal. Saat mana si pelaku merasakan itu sebuah profesi ya itu bs dikatakan bisnis. Tapi saat mana yg tsb diatas pelaku prostitusi merasakan ketidaknyamanan scr psikologis maupun fisik, shg dia merasa sbg korban dari pihak yg memperdayanya, ya itu suatu kejahatan. Halah serius bgt, ya..???
    Dalamnya Laut masih bs diukur dalamnya hati orang ga ada yg tahu. Kurang lebih demikian “Kisanak”.

    @ ipoenk : waduh bg, baret saya jadi ga muat. Butul itu bg saya setuju..

  2. zamrul permalink
    February 16, 2009 11:49 am

    tapi kalau dipikir2 bang
    yang namanya molimo itu (termasuk prostitusi)
    sampai kapanpun g akan hilang2
    tapi setidaknya bisa diminimalisir dampaknya
    saya pernah menulis tentang melegalkan lokalisasi bang
    http://zamrul.wordpress.com/2009/01/06/melegalkan-lokalisasi/
    mungkin lokalisasi bisa jadi suatu solusi alternatif menghadapinya bang………..
    prostitusi di luar area lokalisasi akan di tindak tegas
    sehingga di lokalisasi dapat dilakukan pengawasan lebih ketat

    @ zamrul : kalo lokalisasinya kira-kira begitu bro, tapi kejahatan yang mendorong laju lokalisasi ini yang harus ditekan, human trafficking, smuggling, etc. “Pengawasan” belum bisa diharapkan, bandar besar dgn mudah bisa membayar aparat, dan semua jadi legal ..

  3. April 7, 2009 6:13 am

    Menikmati industri ini? dalam artinya menjadi penggunanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: