Suatu hari saya mendengarkan keluhan dari seorang teman personil polisi tentang layanan kesehatan pada institusi ini. Ceritanya, ayah dari rekan ini mengalami kecelakaan pada saat mengendarai sepeda motor yang terjadi di sebuah kabupaten di wilayah Jawa Tengah. Akibat dari kecelakaan tersebut, si bapak ini menderita luka parah di bagian kepala dan harus segera mendapatkan perawatan darurat. Akhirnya, karena si bapak adalah pensiunan pegawai negeri yang memiliki Askes, maka segera dibawalah beliau ke Rumah Sakit Daerah Setempat. Semua pelayanan yang tebaik dari pihak Rumah Sakit diminta oleh pihak keluarga untuk dapat menyelamatkan si bapak. Cukup lama beliau dirawat di ruang ICU, sedangkan biaya perawatan di ruang tersebut mencapai jutaan rupiah per hari. Hingga pada saat itu sudah ratusan juta rupiah biaya yang dikeluarkan untuk merawatnya. Namun Tuhan berkehendak lain, setelah sekitar tiga minggu berada di ruang ICU, pada akhirnya si bapak meninggal dunia. Meskipun demikian, ada berita baik yang dapat dirasakan sangat membantu pihak keluarga. Adalah seluruh biaya yang seharusnya dikeluarkan ditanggung oleh pihak Askes. Sehingga meskipun merasakan kehilangan, pihak keluarga tetap dapat bersyukur dengan adanya bantuan dari asuransi kesehatan ini. read more…
Dalam rangka mendukung kebijakan akselerasi transformasi kultural pada Program Quick Wins Kapolri, untuk rekrutmen Polri yang bersih, transparan dan akuntabel, maka saya postingkan info terbaru untuk penerimaan Taruna Akpol tahun 2009. Seluruh rangkaian kegiatan penerimaan dan seleksi tidak dipungut biaya. Tahun 2009 ini direncanakan Polri akan menerima Taruna dengan input sumber Sarjana S1/S2 dan lulusan SMA. Ketentuannya sebagai berikut :
Dikarenakan banyaknya pertanyaan rekan-rekan berkaitan dengan perkembangan informasi seputar penerimaan anggota Polri, maka berikut saya posting informasi dari Bagian Penyediaan Personel Biro Pengendalian Personel Polri (Bag Diapers Rodalpers) pada website Polri.
1. Untuk Penerimaan Bintara (Brigadir Polri) TA. 2009, saat ini Polri sedang mengajukan kembali anggaran ke DPR karena ada selisih jumlah yang akan direkrut, diharapkan selesai pemilu yang akan datang, sudah dapat dibuka pendaftaran untuk Brigadir Polri ini.
2. Untuk Penerimaan Akpol maupun PPSS, Polri merencanakan akan membuka pendaftaran pada bulan Mei 2009, dengan didahului oleh penerimaan Akpol baru kemudian PPSS, adapun jadwal dan persyaratan baik jurusan ataupun yg lain-lain akan diinformasikan lebih lanjut setelah Kaji ulang pada akhir bulan April ini.
Adapun Ketentuan dan Persyaratan penerimaan Bintara Polri TA. 2009, adalah sebagai berikut :
Tanpa terasa perjalanan kami melaksanakan misi perdamaian di negara Sudan ini sudah memasuki bulan yang kelima. Hari-hari yang dipadati dengan kegiatan telah berhasil menyingkirkan rasa rindu terhadap keluarga dan tanah air. Meskipun juga rasa itu tetap saja hadir di sela-sela mimpi malam. Karena sejak subuh di pagi buta, bunyi peluit perwira pengawas telah mengacaukan keinginan kami melanjutkan mimpi-mimpi indah itu. Tapi kami tak kuasa menolak untuk segera bergegas dan beraktivitas kembali. Hingga larut malam mengharuskan kami melakukan patroli di lorong-lorong kamp pengungsi yang gelap, serta jalan-jalan berlubang yang tidak bersahabat.
Melakukan rutinitas kegiatan di suatu lingkungan kerja akan membuat kita terbiasa menghadapi tantangan yang dimiliki oleh pekerjaan itu. Semakin lama pula kita berinteraksi dengan aturan suatu pekerjaan akan semakin lihai pula kita bermain. Kadang sebagian dari kita tentu akan merasa nyaman dengan kondisi seperti ini. Cukup dengan melakukan peran yang kita sudah mengerti betul dan beres semua tugas yang diberikan. Namun bagi sekelompok orang yang beraliran anti kemapanan, memiliki cara pandang tentang suasana kerja yang monoton akan mendatangkan kejenuhan. Sehingga akan mudah baginya berganti-ganti profesi atau setidaknya mencari tantangan-tantangan baru untuk dihadapi. Rutinitas dinilai dapat membuat terlena, berbeda dengan kelompok sebelumnya yang dianggap sebagai bentuk kenyamanan.

Saat ini banyak institusi pemerintahan kita yang mendidik sendiri kader-kader penerusnya baik yang sudah lama maupun yang masih tergolong muda usia. Dengan mendirikan sekolah-sekolah kedinasan seperti Akpol, Akademi TNI, STPDN, AIM, dan sebagainya, pimpinan setiap institusi tersebut mengharapkan lulusan yang benar-benar siap pakai untuk mengemban tugas-tugas kedinasan sesuai bidang pekerjaannya. Sehingga kurikulum pelajaran yang diberikan pun harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan nantinya. Dalam kehidupan pendidikan kedinasan terutama yang mengasramakan anak didiknya, saya melihat adanya pola yang mirip dalam menanamkan nilai-nilai sikap dan perilaku disamping pelajaran mata kuliah yang disampaikan di kelas. read more…
Tanggal 12 Januari yang lalu adalah tepat tiga bulan saya berada di Darfur Sudan ini. Ada beberapa catatan pribadi saya mengenai hal-hal menarik yang saya temukan disini, diluar tugas-tugas rutin yang tentu menguras tenaga dan pikiran. Tidak hanya ‘fisik yang capek, tapi jiwa yang lelah’ kalo setiap saat memikirkan tugas-tugas.. weleh.. weleh.. !!$@%#$&* ) Atau saya saja ya yang merasa paling lelah dan capek.. hehe.. Jadi pada sepotong diary ini saya ingin menceritakan hal unik dalam hari-hari saya selama melaksanakan misi di negri Dispenser ini. Sekalian merefreshkan pikiran biar oke lagi saat melakukan tugas-tugas rutin yang mbosenin… (Ah Masakkk.. !!) read more…
Prostitusi memang bukanlah hal yang baru di muka bumi ini. Sejak jaman nenek moyang, jaman penjajahan hingga jaman sekarang, yang katanya semakin beradabnya tingkat kebudayaan manusia, fenomena yang satu ini tetap menjadi sebuah “trend” dalam kehidupan sosial kita. Saya ingin berbagi perspektif pandangan saya pribadi mengenai hal ini, setelah kemarin sempat menonton sebuah film yang berlatar belakang tentang perdagangan manusia. Lebih khusus perdagangan “wanita” sebagai salah satu kelompok sosial yang vulnerable.
Konon wanita adalah simbol keindahan dan kecantikan. Pesona inilah kemudian dijadikan sebuah komoditi yang sangat berharga, yang menjadikan wanita sebagai bahan dagangan yang dapat menghasilkan uang. Laki-laki memang ada juga yang menjual diri. Tetapi jarang yang kita lihat terorganisir dalam jumlah besar. Kalaupun ada mereka berusaha memiliki keindahan dan kecantikan untuk menjadi wanita yang palsu.

Apa yang terjadi di negara Zimbabwe akhir-akhir ini perlu dijadikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Dimana sesuai data yang dihimpun Badan urusan kemanusiaan PBB, sekitar 1000 orang telah meninggal dan belasan ribu orang lainnya sedang menderita akibat penyebaran wabah penyakit kolera. Wabah kolera menyebar dengan cepat, sementara fasilitas dan layanan kesehatan tidak dapat bekerja dengan baik. Disaat masalah infeksi penyakit kolera tersebut belum dapat dituntaskan sepenuhnya, isu yang berkembang telah memasuki ranah politik. Kepemimpinan Presiden Robert Mugabe yang telah berkuasa selama 28 tahun mendapat goncangan. Dia menuduh pihak Barat memberi dukungan pihak pemberontak oposisi, dengan sengaja menyebarkan kolera untuk menginvasi Zimbabwe dan berusaha untuk menjatuhkan kepemimpinannya.

Pemerintah Indonesia khususnya dalam hal ini Polri, tahun 2008 ini telah mengirimkan satu kontingen Satuan Tugas Formed Police Unit (FPU) ke Sudan sebagai bagian dari peacekeeping force dibawah bendera PBB. Satuan tugas ini tergabung dalam UNAMID (United Nations African Union Hybrid Mission In Darfur) seperti yang tertera dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1769. Pengiriman satgas FPU ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk mengemban amanat pendiri bangsa yang tercantum pada pembukaan UUD 1945 alenia yang keempat. Hal ini merupakan yang pertama bagi Polri untuk mengirimkan pasukan dalam jumlah besar dalam sebuah Peacekeeping Operation. Selama ini Polri lebih banyak mengirimkan personelnya secara individual sebagai UN Civillian Police. Selanjutnya satuan tugas ini dinamakan Kontingen Garuda Bhayangkara I.
Formed Police Unit (FPU) adalah sebuah satuan tugas yang terdiri dari 140 personel polisi berseragam yang memiliki ketrampilan khusus kepolisian, seperti dalam pengendalian massa, menggunakan persenjataan dengan dibekali teknik dan taktik pertempuran kota, pembebasan sandera, serta mempu mengatasi gangguan keamanan bersenjata dalam tingkat intensitas resiko yang tinggi, dan mampu bergerak dengan cepat di dalam lingkup area penugasan misi perdamaian PBB.
Konflik di Darfur sendiri meletus pada tahun 2003, yang menyebabkan 2,7 juta manusia terpaksa mengungsi di IDP (Internally Displaced Persons) camps, dan sekitar 300 ribu orang terbunuh akibat konflik berkepanjangan yang melibatkan faksi-faksi pemberontak yang melawan pemerintah Sudan. Dimana pemerintah Sudan sendiri menggunakan milisi bayaran dari suku keturunan Arab yang dikenal sebagai “Janjaweed” untuk menghadapi pemberontak yang berasal dari suku asli Afrika itu.
Tugas-tugas yang diemban FPU antara lain yaitu memberikan dukungan kepada individual Police officer PBB untuk melaksanakan program-programnya, memberikan perlindungan kepada personel PBB, fasilitas, instansi, perlengkapan, serta memberikan keamanan untuk pergerakan staf PBB dan pekerja kemanusiaan Internasional, memberikan perlindungan kepada komunitas sipil yang rentan terhadap ancaman tindak kekerasan dengan melakukan patroli “confidence building” dan pengawalan, memberikan kontribusi keamanan di lingkungan IDP (Internally Displaced Persons) camps serta mendorong para pengungsi lokal dalam IDP itu untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, serta tugas-tugas kepolisian lain seperti Pengendalian massa dan Pengawalan VIP.
Saat ini FPU Indonesia I atau Kontingen Garuda Bhayangkara I memiliki Area Of Rensponsbility (AOR) di Kota El Fasher, ibukota North Sector Darfur. Indonesia merupakan FPU kedua yang berada di Darfur setelah FPU Bangladesh yang ditempatkan di kota Nyala, South Sector. Keseluruhan seharusnya ada 19 FPU yang direkomendasikan oleh UNAMID. Sejak di “deploy” pada tanggal 12 Oktober 2008, telah cukup banyak tugas-tugas yang dilaksanakan. Tugas rutin yang sementara ini menjadi tanggung jawab FPU Indonesia adalah pengawalan Police Adviser Unamid untuk melaksanakan Community Policing di tiga IDP camps besar di El Fasher, yaitu Al Salaam, Abu Shouk, dan Zam zam, serta Patroli malam yang dilakukan gabungan dengan unsur militer dari Rwanda Defense Force. Sebagai Komandan kotingen Garuda Bhayangkara I adalah Akbp. Drs. Johni Asadoma, M. Hum dan sebagai Wadan Akbp. Reinhard Hutagaol, Sik. Dimana berita-berita terkini seputar penugasan FPU Indonesia ini dapat dimonitor dari blog beliau di http://reinhardjambi.wordpress.com







